Derita apa kabarnya dirimu???
Mengapa ketika kau mendekapku semuanya serasa teramat pahit ????
Padahal kecupan manis sang alam aku rasakan kala itu, bukankah seharusnya kau mengirim pesan ketika kau akan datang menemui kehidupanku, tapi mengapa kehadiranmu bagai kilatan petir yang datang tiba-tiba?? Apakah kepatuhanmu sudah tak bisa lagi di bengkokkan??? Ataukah keluh kesahku ini terlalu berlebih???, semuanya sudah membatu dalam pekatnya malam, lalu aku berjalan sedikit menuju sudut ruang dengan keadaan agak gelap agar aku lebih bisa menyembunyikan wajah lelahku ini, tapi aku tak berkutik ketika letih dan sikap putus asaku menginterogasi semua isi kepalaku, tak ada jawaban yang bisa aku katakan dan tak ada satupun pertanyaan yang mampu aku jawab, aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri padahal tikus yang mencuri sabun mandiku jelas tahu ‘ bahwa semua ini bukan sepenuhnya salah ku, tapi hati dan pikiran ku tak selaras dengan solider ku, aku tak mau melibatkan banyak orang karena itu semua hanya merepotkan mereka saja dan itu belum tentu masalah yang aku hadapi akan selesai saat ini juga, suara detak jantung menjelma menjadi dentum meriam yang mendegup kencang telinga menerima semua sinyal perang yang tersusun rapi malam itu, kedua mata bola naik turun seakan ingin menjatuhkan dirinya ke liang mimpi, sekujur tubuh meleleh laksana gunung es yang terbakar amuk penyesalan, aku ingin berteriak sekeras mungkin bahkan suara halilintar pun ingin aku bungkam agar teriakan ku lebih jelas terdengar di angkasa sana, tapi kebisuan menganiaya lidah dan kemauan ku, aku tak lebih sebagai bangkai serigala malam itu meski terlihat menakutkan dengan taring yang ku gunakan sebagai pembunuh mangsa, tetapi sedikitpun tak membuat takut cicak yang tak punyai gigi itu, malah justru juluran lidah cicak yang menangkap nyamuk itu membuatku takut setengah mati untuk menghadapi hari esok,
Perjalanan malam sampai pada pertengahan terjadi insiden ketika peralihan menghimpitku dan membuatku semakin tak ingin menutup mata karena terpampang jelas ketakutan itu ketika aku temukan kegelapan, lalu kunyalakan lampu-lampu yang sementara ini masih menjadi miliku sepenuhnya, nyamuk-nyamuk berdemonstrasi di kedua daun telingaku dan menimbulkan kebisingan super bising, menusuk-nusuk sampai ke alam bawah sadarku, tenggelam sudah kapal yang aku naiki tenggelam dalam mataku , tenggelam dalam benaku , tenggelam dalam lamunanku, ting…ting…ting…dua belas kali aku mendengar suara itu… tapi seperti ku dengar berkali-kali dan tak pernah berhenti lalu aku memutar lagu klasik agar suara itu larut dalam alunan cinta dari sang mahestro, ahk,,, semua sia-sia , lagu yang aku putar ternyata rekaman dari semua kesalahan yang pernah aku lakukan dan yang pernah aku nyanyikan diantara penderitaan saudara sendiri, lalu ku seret bantal yang tidur nyenyak di sisi kananku kututupi rapat-rapat sampai tak ada suara yang masuk , tapi seakan ada bisikan menyelinap masuk “ hentikan…..hentikan……hentikan semua ini…. Aku mohon hentikan hentikan……..” bisikan itu semakin nyata dan nyata tapi setelah itu nyata ternyata itu hnyalah suara dari hatiku yang mengalami phobia sepi, wajar saja tanpa teman aku hanpir terbunuh sepi tanpa teman juga aku melihat sepi, jarum jam tak berhenti mengukur waktu yang aku buang sia-sia , mengukur malam yang aku banding-bandingkan dengan pagi hari, ‘” mengapa mesti ada gelap ?? padahal esok pagi lebih indah dengan sinaran fajarnya… lalu kenapa bintang itu setia pada malam??? Bukankah awan2 berarak kesana kemari sesuka mereka??? Akh aku hanyalah anak manusia , manusia yang sering lemah di hadapan manusia , aku merasa tak pantas membanding-bandingkan mereka karena aku tak mungkin bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Lalu aku mencari air bersih untuk membasuh wajah yang di hantui kesalahan itu, ku basuh dan ku usap dengan tapak tangan ku yang menggenggam mimpi dan ku lepaskan bgitu saja ,
“ huft andai aku bisa seperti air meredam amarah ke setiap hati yang marah “
lidahku sontak berkata seperti itu karena aku merasa hanya kesalahan lah yang selalu aku lakukan tanpa memberi manfaat sesama, perjalanan sudah hampir sampaikan tetapi kaki ini sudah tak mau melangkah diam dan diam menjadi batu dan pecah seketika lalu tubuh ini ku angkat dengan sisa tenaga yang masih bernaung di badan ku, kujatuhkan diantara tumpukan kapas yang terbalut kain bercorak bunga mawar itu, kepalaku menindih benda yang sama namun berukuran sedikit kecil, seketika itu aku hilang dalam dunia nyata dan terlahir ke dunia maya namun tak aku duga sebelumnya aku akan tersudut di dalamnya , semua mengolok-olok seakan aku tak punyai nilai sedikitpun bahkan sebesar biji kutu,
silakan engkau tertawa sepuas mu silakan ….silakan….. silakan lantangku kala itu , aku tak akan menyerah karena hinaan itu, tapi ternyata aku kalah aku tak bisa membuktikan perkataan ku sendiri, olokan mereka menyakiti alam bawah sadarku… olokan mereka menyakiti bunga-bunga yang aku tanam…. Olokan mereka membunuh mimpi-mimpi yang aku kumpulkan.. olokan mereka membuatku terbangun dari semua ini….dengan cepatnya aku tinggalkan semuanya dan tinggalah aku sendiri dengan mata kosong memandangi tembok –yang bergambar penyanyi balada itu…..
Semua sudah berlalu kini aku sudah kembali menjadi aku
Aku sudah berjuang melewati malam , malam yang membuatku bingung untuk membedakan mana nyata mana maya…
Aku sudah melihat matahari dari celah jendela kamarku
Aku sudah bisa menggerakan kedua tangan dan jari jemariku
Aku sudah membuka mata
Aku sudah bisa memanggil orang yang menyanyangiku
Aku sudah bisa aku bisa dan aku bisa
Aku bisa untuk menghadapi kehidupan ini dengan cukup bisa
Karena kita semua bisa bila kita melakukannya dengan kebiasaan dan aku yakin pasti bisa……..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar